Modernisasi dan Budaya Masyarakat Cina Tangerang Yang Memudar

by frezzia

Reporter: Rizky Fitria

Serpong, Tangerang – Budaya masyarakat Cina Tangerang, khususnya dalam tarian cokek yang diadakan di rumah kawin mengalami alkulturasi seiring dengan arus modernisasi. Perkembangan zaman membawa perubahan dalam tradisi sebuah budaya.

Cokek sendiri berasal dari bahasa Hokkian, Cio Kek yang berarti penari wanita. Para penari cokek berdiri berjejer sambil menari mengikuti irama gambang kromong.

Penari cokek mengajak tamu untuk menari bersama secara berpasangan dengan berhadap-hadapan. Bila tamu tersebut bersedia ikut menari, maka mulailah mereka ngibing.

Rumah kawin, sesuai namanya merupakan sebuah tempat berbentuk aula yang sengaja dibangun sebagai tempat perkawinan bagi masyarakat Cina Tangerang. Bagian depan dinding rumah terbuat dari bambu atau jaring-jaring besi. Secara keseluruhan arsitektur bangunan terbuat dari kayu. Rumah kawin dapat dijumpai di daerah Tangerang, Banten, seperti Sewan, Kedaung, Selapajang Jaya, Teluk Naga, dan Dadap.

Layaknya pesta perkawinan, para tamu yang hadir disuguhkan berbagai makanan. Menu makanan bagi masyarakat beragama Islam, biasanya berupa daging ayam, sedangkan menu sajian daging babi diperuntukkan bagi masyarakat Tionghoa non-Islam. Tak ketinggalan pula kue khas masyarakat Cina Benteng, seperti kue bakpau, pepek, dan bugis. Kue-kue tersebut ditaruh di atas meja panjang tempat para tamu duduk.

Pesta rumah kawin biasanya diadakan selama tiga hari. Dalam acara ini terdapat penari cokek dan alunan gambang kromong. Kesenian tersebut lahir sebagai hasil dari perpaduan budaya. Budaya Tionghoa dan Betawi.

Meskipun hingga kini tradisi rumah kawin beserta tarian cokek masih ada, keadaan tersebut berbeda jauh dengan suasana tarian cokek aslinya. Dahulu, penari cokek berpakaian kebaya. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah. Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang.

Kini, penari cokek hanya berdandan ala kadarnya dan berpakaian biasa, baju kaos dan celana jeans. Budaya tari cokek juga terlihat seperti tarian erotis. Mereka menari berpasang-pasangan dan saling bersentuhan. Ada beberapa pasangan yang tak segan untuk saling berpelukan. Tak jarang sang penari cokek mendapat ciuman dari tamu laki-lakinya.

Padahal dalam sejarahnya tarian cokek hanyalah tarian berpasangan tanpa melakukan persentuhan.

Selain itu, pergeseran budaya terlihat dari kelompok gambang kromong. Dalam pesta itu, mereka juga memainkan musik dangdut. Handi, salah satu tamu menuturkan, lagu dangdut dimainkan karena tidak semua tamu suka musik gambang kromong. Musik gambang kromong biasanya hanya disukai oleh orang-orang tua, sedangkan musik dangdut lebih diperuntukkan orang-orang muda.

Editor: Prisca Triferna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: