Maskotnye Orang Betawi, Nih

by efraimtw

Reporter : Efraim Tirto

 

“Eh ujan gerimis aje

ikan teri di asinin

eh jangan menangis aje

yang pergi jangan di pikirin”

Penggalan lagu tersebut mungkin sudah tidak asing bagi kita. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Benyamin Sueb, seorang jenaka yang juga merambah dunia musik, dan peran. Bang Ben begitu kerap disapa lahir di Kemayoran Jakarta 5 Maret 1939 dan meninggal 5 September 1995, beliau telah menciptakan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Benyamin mengaku tidak memiliki cita-cita yang pasti, ia pernah menjadi tukang roti dorong dan supir bis PPD pada tahun 1959.

Dalam dunia musik, Bang Ben adalah seorang seniman yang berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong. Lewat kesenian itu pula nama Benyamin semakin popular. Tahun 1960, presiden pertama Indonesia, Soekarno, melarang diputarnya lagu-lagu asing di Indonesia. Pelarangan tersebut ternyata tidak menghambat karier musik Benyamin, malahan kebalikannya. Dengan kecerdikannya, Bang Ben menyuguhkan musik Gambang Kromong yang dipadu dengan unsur modern.

Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti Organ, gitar listrik, dan bass, dipadu dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu.

Setelah Orde Lama tumbang, yang ditandai dengan munculnya Soeharto sebagai presiden kedua, musik Gambang Kromong semakin memperlihatkan jatidirinya. Lagu seperti Si Jampang (1969) sukses di pasaran, dilanjutkan dengan lagu Ondel-Ondel (1971).

Lagu-lagu lainnya juga mulai digemari. Tidak hanya oleh masyarakat Betawi tetapi juga Indonesia. Kompor Mleduk, Tukang Garem, dan Nyai Dasimah adalah sederetan lagunya yang laris di pasaran. Terlebih setelah Bang Ben berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Nonton Bioskop, nama Benyamin menjadi jaminan kesuksesan lagu yang akan ia bawakan.

Setelah sukses menjadi penyanyi, lewat popularitasnya di dunia musik, Benyamin mendapatkan kesempatan bermain film. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Benyamin Sueb telah menjadi legenda bagi masyarakat Betawi, kontribusinya untuk kesenian Betawi termasuk besar sehingga kesenian Betawi dapat bertahan sampai sekarang.

Editor : Stephanie Yovita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: